SHARE : Menentukan Harga Jual Motor Bekas, Lihat Saja Pajaknya !

Mau menjual sepeda motor kesayangan? Salah satu faktor yang terkadang membuat niat untuk menjual motor bisa maju atau mundur, yaitu harga jual. Selama ini tidak ada patokan yang pasti untuk harga jual setiap merk dan tipe sepeda motor, apalagi ditambah makin maraknya situs jual beli online yang membuat penjual bisa sebebasnya banting harga dengan tujuan agar motor jualannya cepat laku, yang menyebabkan “harga pasaran” jadi semakin tidak jelas hingga akhirnya harga terendah lah yang dijadikan patokan, selain harga motor bekas dari dealer motor bekas. Ini bisa mengurungkan niat untuk menjual sepeda motor kesayangan, karena harganya yang jatuh sekali, rugi dong.

Padahal, ada satu patokan yang bisa dijadikan harga pasaran suatu tipe sepeda motor, yaitu pajak motor yang tertera di STNK, koq bisa? Coba baca artikel berikut :

Artikel dari tabloid Motor Plus

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah 1,5 % dari Harga Pasaran Umum yang sudah ditetapkan Depdagri. 1,5 % adalah koefisien tetap, sementara HPU dihitung berdasarkan isi/kapasitas silinder mesin, penggunaan kendaraan bermotor, jenis kendaraan bermotor, tahun pembuatan, merk dan berat total. Nilai HPU ini berlaku nasional, jadi seharusnya besaran PKB juga sama di seluruh Indonesia. Meski semenjak adanya otonomi daerah pajaknya bisa berbeda-beda, namun yang jelas nilai PKB inilah yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan HPU sepeda motor.

Bagaimana menghitungnya? tentu sangat mudah sekali. Jika besaran PKB adalah 1,5 % dari HPU, maka HPU adalah :

HPU = PKB / (1,5 %) = PKB / 0,015

Oiya, untuk besaran PKB, jangan sampai salah hitung ya, jumlah uang yang dibayarkan  saat bayar pajak bukan sepenuhnya PKB, tapi sudah ditambahkan SWDKLLJ (Sumbangan Dana Wajib Kecelakaan Lalu Lintas Jalan) dan Biaya Administrasi STNK (serta TNKB dan BBNKB jika perpanjang atau balik nama). Fokus saja pada angka yang tertera di kolom PKB, itu yang dijadikan patokan penghitungan angka HPU.

Sebagai contoh, saya hitung HPU kedua sepeda motor saya yaitu Suzuki Thunder 125 2005 dan Yamaha Scorpio Z 2006. PKB Suzuki Thunder 125 2005 adalah Rp. 150.500,- sementara PKB Yamaha Scorpio Z 2006 adalah Rp. 229.300,-. Jadi HPUnya :

HPU Suzuki Thunder 125 = 150.500 / 0,015= Rp. 10.033.333,-

HPU Yamaha Scorpio Z = 229.300 / 0,015 = Rp. 15.286.666,-

Wah, tinggi juga ya? jika dihitung dari harga beli barunya, untuk Suzuki Thunder 125 yang harga belinya 12,9 juta dan Yamaha Scorpio Z yang harga belinya 19 juta depresiasinya yaitu 22,22 % dan 19,54 %, Scorpio setahun lebih muda jadi depresiasinya lebih kecil. Sebagai perbandingan depresiasi Kawasaki Ninja 250 FI 2014 hanya sekitar 13 % (penghitungan HPU dari pajak dengan sumber disini) karena tahunnya juga jauh lebih muda.

Jika logikanya dibalik, anggap saja harga pasaran Suzuki Thunder 125 2005 sekitar 5 juta dan Yamaha Scorpio Z sekitar 10 juta (dengan kondsi motor komplit dan surat lengkap), tentunya PKB yang harus dibayar tidak sebesar itu, Suzuki Thunder 125 hanya perlu membayar PKB sebesar 75 ribu, dan Yamaha Scorpio Z hanya 150 ribu, betul ? ternyata tidak kan 😀

Jadi silakan memilih, ikut harga pasaran dealer motkas dan situs jual beli online, atau HPU dari Depdagri?

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di SHARE dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s