SHARE : Pahami Filosofi Umum Lambang Klub, Biar Tidak Dicap “Salah Gaul”

outlaw-biker-gangs

Bergaul di komunitas bikers, patch atau logo klub dan komunitas jadi salah satu ciri yang menunjukkan asal klub dan komunitas sekaligus menunjukkan eksistensi dari klub dan komunitas. Makin beragamnya komunitas yang ada “memaksa” para pelakunya untuk semakin kreatif menciptakan logo yang unik dan berbeda dari yang lainnya, namun disayangkan kadang terjadi penjiplakan baik sebagian maupun seluruhnya dari logo komunitas luar negeri tanpa dipahami dahulu filosofinya. Maka dari itu, yuk kita lihat filosofi dibalik logo-logo yang sudah dipakai dalam dunia bikers internasional maupun filosofi logo secara umum.

Membahas komunitas bikers tentu tidak bisa terpisahkan dari komunitas pengguna Harley Davidson di negara Amrik, dimana gaya hidup mereka sudah dimulai semenjak akhir perang dunia kedua. Sekelompok tentara eks perang dunia kedua yang mencari “hiburan” selepas perang dengan membeli armada perang termasuk diantaranya sepeda motor untuk kegiatan sehari-hari dan sarana bergaul di komunitas, mulai membentuk komunitas-komunitas bikers. Fenomema ini direspon oleh AMA (American Motorcycle Association) dengan mengadakan kumpulan akbar para bikers, semacam jambore acara IMI, yang mempertemukan tidak hanya para penggiat motorpsort seperti jambore sebelumnya tapi juga hobbies seperti komunitas-komunitas bikers. Namun disayangkan sering terjadi beberapa insiden seperti keributan dan kericuhan yang ditimbulkan beberapa komunitas kecil, hingga akhirnya muncul istilah 1% yang berasal dari pernyataan penyelenggara event yang menyatakan “penyebab kerusuhan hanyalah satu persen (sebagian kecil) dari seluruh bikers yang hadir“. Komunitas yang merasa sebagai pembuat onar pun semakin menyatakan eksistensinya sebagai komunitas yang tidak peduli hukum alias outlaw dengan menempelkan patch 1% di colorsnya. Jadi secara umum, logo 1% menyatakan sekelompok bikers yang tidak peduli pada hukum dan aturan lalu lintas yang berlaku.

1_er_patch

Komunitas “minoritas” ini semakin lama justru semakin eksis, terlebih karena ekspos dari media mengenai kegiatan pelanggaran hukum yang mereka lakukan. Logo yang mereka pakai di colors mereka jadi momok yang menakutkan jika terlihat di jalanan. Logo Hells Angels berupa “death’s head” awalnya bukanlah logo yang menunjukkan keseraman karena bentuk tengkoraknya, tapi merupakan desain ulang dari logo skuadron pembom di perang dunia kesatu dan kedua, dimana para pendiri Hells Angels sebelumnya juga adalah anggota skuadron tersebut. Logo sayap diapdaptasi dari lambang skuadron angkatan udara, sementara gambar tengkorak dalam dunia militer dapat diartikan “siap berjuang sampai mati“.

Ni-17_Nungesser

Logo tengkorak sendiri berasal dari simbol cross & bones yang pada awalnya digunakan untuk menandakan konten yang mengandung bahan beracun. Simbol yang selalu disertai kata “Danger” atau “Hazardous” ini menjadi penanda untuk mewaspadai dan menjauh dari konten tersebut, sama halnya dengan geng bermotor outlaws yang memang perlu diwaspadai dan dijauhi, sehingga banyak juga geng bermotor yang mengadopsi logo cross and bones yang seakan memproklamirkan “Kami Berbahaya, jangan macam-macam dengan kami”. Salah satu geng yang mengadopsi logo cross and bones ini adalah Outlaws MC, dengan memodifikasi tulang menjadi piston dan stangnya untuk menyatakan logo ini adalah logo kelompok bermotor.

homepic

Tapi tidak hanya logo “menyeramkan”, terkadang logo yang terlihat lucu juga bisa jadi logo para klub outlaws, diantaranya Bandidos MC yang menggunakan gambar kartun pria buncit berjenggot menggunakan topi sombrero, layaknya bandit meksiko yang muncul di komik dan film kartun, tentunya dengan menenteng revolver dan parang sebagai senjata khas para bandit tersebut. Meskipun lucu, tapi tetap saja menunjukkan bahwa mereka adalah para “bandit” yang siap mencuri dan menghabisi siapapun yang berurusan dengan mereka.

Bandidos-logo

Lalu bagaimana dengan klub dan komunitas motor tanah air? Kiblat outlaws yang saat ini paling menonjol mungkin adalah Bikers Brotherhood MC, dimana sang El Presidente (medio 2010 saat marak kriminal bermotor) Budi Dalton sendiri menyatakan bahwa BBMC adalah geng motor. Sesuai dengan patch 1% di dada mereka yang menyatakan mereka tidak peduli hukum, sang Presidente sering tidak memakai helm saat berkendara (helm adalah aturan wajib berlalu lintas di Indonesia) dan lebih mengutamakan iket di kepalanya sebagai lambang kecintaannya pada budaya Sunda sebagai mother chapter BBMC, apalagi ditambah dengan motor-motor tua yang belum dilengkapi lampu sein dan plat nomor.

20150418-agustian-bdg-pawai-bendera-kaa-brotherhood-1--0

Namun untungnya BBMC masih jauh dari tindakan kriminal seperti geng outlaws di luar negeri, malah BBMC jadi klub yang menjadi garda terdepan menentang masuknya geng dan ideologi kriminal bermotor masuk ke Indonesia.

Bagaimana dengan yang lainnya? Banyak yang merujuk ke logo HOG (Harley Owners Group) sebagai representasi klub yang berafiliasi dengan manufaktur sepeda motor, dengan menempatkan logo yang sudah ditetapkan secara internasional dan memasang top rocker dengan tulisan lokasi chapter. Kebalikan dari colors outlaws yang menempatkan tulisan lokasi chapter di bottom rocker.

DSC_1339

Salah satunya yang mengadopsi logo seperti ini adalah Thunder 250 Club yang dibuat oleh PT. Indomobil (SIS) sebagai pabrikan Suzuki di Indonesia.

btc

Selain itu masih banyak juga logo klub yang berafiliasi dengan pabrikan ataupun yang tidak, yang tidak berafiliasi umumnya lebih mengedepankan ego kedaerahan mengingat banyaknya daerah, suku, dan budaya di Indonesia.

Jadi sebetulnya tidak ada batasan dalam membuat logo klub atau komunitas, namun perlu dipahami bahwa suatu logo harus mempunyai filosofi yang jelas dan tidak bertentangan dengan pemahaman umum dunia biker nasional dan internasional, agar tidak terjadi kesalahpahaman pemahaman tentang logo klub di mata umum😉

This entry was posted in SHARE. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s