SHARE : Kontradiksi Inreyen “Jadul” vs. Inreyen “Modern”, Pendapat Saya…

Berawal  dari blog walking hingga akhirnya menemukan sebuah video di youtube tentang tentang tata cara inreyen “modern”, lucu juga membaca “perang” komentar antara si pengupload versus komentator lain, dimana sang komentator mengkomentari tata cara inreyen yang “sesat” alias melenceng dari tata cara inreyen pada umumnya, sementara sang pengupload membuktikan bahwa klaim si komentator salah karena buktinya motornya baik-baik saja setelah mengaplikasi tata cara inreyen modern tersebut🙂

Well, sebenarnya apa bedanya? Begini, dalam tata cara inreyen “jadul” sebuah motor musti diperlakukan halus selama kurang lebih 500km pertama sejak pembelian motor atau setelah servis besar, penggantian spare part utama, dll, tujuannya agar tingkat keausan mesin minim karena biasanya masa inreyen adalah masa penyesuaian gerak komponen-komponen dalam mesin dimana saat itu terjadi keausan terbesar karena penyesuaian tersebut. Perlakuan inreyen tersebut diakhiri dengan penggantian oli pada 500km pertama setelah pertama pemakaian. Tata cara inreyen ini biasanya tercantum pada buku panduan dari setiap motor yang kita beli dari dealer.

Lalu apa bedanya dengan inreyen “modern”? Pada inreyen modern, mesin yang masih dalam masa inreyen justru “disiksa” sedemikian rupa, ada yang menggunakan metode running statis pada rpm tertentu (biasanya menengah bahkan tinggi) dibarengi dengan penggunaan kipas untuk menjaga suhu mesin, ada juga yang menggunakan metode jalan yaitu digeber hingga rpm atau kecepatan tertentu pada beberapa saat untuk mendapatkan beban tertentu, setelah itu dilakukan penggantian oli lebih cepat daripada perlakuan inreyen biasa.

Lalu, darimana munculnya inreyen “modern” ini? AFAIK, inreyen modern mulanya berasal dari dunia racing/balap. Perilaku ini didiasari kebutuhan balap yang serba cepat, dimana pada saat terjadi kerusakan atau penggantian komponen di tunggangan balap maka harus cepat dilakukan dan tunggangan harus cepat siap pakai juga, sehingga tidak ada waktu untuk melakukan inreyen “jadul” maka lahirlah metode inreyen modern tersebut. Metode inreyen ini juga beredar luas dari salah satu situs rujukan tuner-tuner modern, mototuneusa.com.

Lantas, layakkan tunggangan harian diperlakukan seperti itu (menggunakan metode inreyen modern)? Tanpa bermaksud membela salah satu pihak baik yg pro ataupun kontra, saya lebih suka menjelaskan alasan teknis yang merasionalkan antara pendapat dan fakta yg beredar seperti berikut :

“Jika menggunakan metode inreyen modern, mesin lebih enak untuk ngebut.”

Saya setuju, alasannya pada saat perlakuan inreyen kondisi mesin yang dipaksa sejak dari awal akan menimbulkan keausan yg lebih banyak daripada perlakuan inreyen biasa. kondisi ini akan membuat clearance di area mesin jadi melebar, keuntungannya beban mesin menurun karena gesekan di area mesin cenderung minim, keuntungan lainnya pada kecepatan tinggi mesin cenderung enteng dan lebih enak, saat pemuaian tinggi pun resiko mesin ngejim (macet) jadi berkurang karena clearancenya lebih lebar. Sama kondisinya dengan tunggangan balap, dimana clearance di area mesin motor balap dibuat lebih lebar daripada motor harian karena motor balap menghadapi kondisi ekstrim, diantaranya panas tinggi, pemuaian tinggi, beban tinggi, dll.

Jika menggunakan metode inreyen modern, mesin cenderung awet.”

Bisa ya, bisa tidak. Ya, jika dilihat dari sudut pandang yang sudah dikemukakan diatas, yaitu clearance di area mesin yg melebar akan meminimalisasi resiko mesin macet atau gesekan berlebih, efek positifnya mesin lebih tahan dibawa beban berat karena toleransi keausan atau resiko macet lebih kecil, suhu mesinpun lebih rendah karena gesekan cenderung minim. Tapi konsekuensinya pada sisi perawatan musti lebih telaten, karena dengan clearance lebar maka peluang oli menyelusup ke ruang bakar jadi besar,  jika oli berkurang maka keausan komponen juga makin besar dan menyebabkan penggantian komponen makin cepat.

“Jika menggunakan metode inreyen modern, mesin cenderung berisik.”

Tentu saja, karena clearance yang lebar akan menyebabkan jarak main antar komponen jadi lebih jauh dan menyebabkan suara berisik saat komponen saling berbenturan. Akan semakin terasa jika pada kondisi sehari-hari motor jarang dibawa ngebut, membawa beban berat, dll.

“Jika menggunakan metode inreyen jadul, mesin lebih awet.”

Tentu, apalagi jika dibarengi perlakuan yang “biasa-biasa saja”, jarang ngebut, jarang membawa beban berat, dll. Pada kondisi mesin yang tidak mencapai peak bebannya, clerance standar lebih baik karena pada kondisi itu kompresi mesin tetap terjaga di putaran bawah sehingga mesin tidak perlu digeber hingga putaran tinggi untuk mendapatkan torsi besar. Selain itu, peluang oli menyelusup ke ruang bakar lebih minim sehingga volume oli tidak gampang berkurang.

Jadi kesimpulannya, sah-sah saja jika anda ingin mengaplikasi inreyen modern pada motor anda, jika anda lebih senang menggunakan motor anda dengan perlakuan yang cukup ekstrim, namun jika anda menginginkan kondisi mesin yang cenderung awet dan penggantian komponen lebih lama maka sebaiknya gunakan cara inreyen jadul. Karena pada akhirnya, baik inreyen jadul maupun modern, perawatanlah yang memegang peranan penting dalam menjaga keawetan mesin.

inreyen

Tingkat keausan inreyen jadul vs. inreyen modern dengan asumsi perawatan sama dan penggunaannya sesuai kondisi dan peruntukannya

This entry was posted in SHARE and tagged . Bookmark the permalink.

7 Responses to SHARE : Kontradiksi Inreyen “Jadul” vs. Inreyen “Modern”, Pendapat Saya…

  1. Nyengateroez says:

    Wah nice info, thanks ya mas, sayang jarang update, n kurang publikasi blognya🙂

    • mochyuga says:

      sama2 mas, saya ga niat “narsis” koq jadi publikasinya secukupnya aja hehe… jarang update juga soalnya sama cuma nulis tulisan yg orisinil, ditambah sayanya juga agak moody hehe

  2. Satriaji says:

    Wah,kalo saya Lebih mengikuti ineryen jadul,pas beli tiger revo 2007 bulan 2,saya jarang geber sebelum 1000km pertama,setelah itu saya geber aja motor,sampai sekarang motor masih enak di ajak lari,apalagi tiap satu bulan sekali touring sama temen club,menempuh jarak lebih dari 400km..belum pernah turun mesin,paling cuma pergantian sparepart aja seperti gear ban dll..tp yg terpenting perawatan,tiap 1500km ganti oli,ga pernah telat,terus service tiap 3000km..sampe sekarang motor tetep enak,ganti keteng dari 2007-sekarang baru 2 kali.
    Itu saja..ini saya ngomong nyata..kalopun ada yg ga suka jg gpp.

    Salam roda bundar !
    Keep brotherhood

  3. permadi says:

    hmm faktanya y*maha v*ga ibu saya reyennya metode jadul, kalo make pelan terus, maks 50 kmh *maklum emak2* tapi kok ngebul juga. Sedangkan s*zu** sh**un saya dr awal dipake ngebut terus malah tiada ngebul. Dan penggantian part juga hampir tidak pernah ada/wajar saja. Yah palingan cm busi, oli*jelaslah*. Bagaimana anda menjelaskan itu ?
    Note : suzinya th 2003, v*ganye 2004.

    • Gembelisme says:

      Itu karena makenya aj bro. Terlalu pelan. Sharusny gigi 4 minimal ya 50, d bwh itu y harus turun gigi. Normalny seirit2 bensin gigi 3 gak bakal lebih irit drpd gigi 4…tp klo terlalu pelan, ya minimal klepnya kena duluan…ngebul dah.
      Trs dipikirny klo jalan pelan, olinya bisa tahan lama, gak diganti2.

  4. Ali says:

    Itu buka karna iriyen jadul tapi karna pengunaan yang tidak tepat kadang ibu ente nanjak dipaksa gigi 4…..
    Hehehe

  5. andri says:

    Ibu2 start gigi 2, tanjakan gigi 4… Dijalan ngegas sambil pencet rem… Buka tutup gas kasar… Hahaha ya ancur motornya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s