HOWTO : Rekayasa Grafik Dynometer Bermodalkan Data Brosur Kendaraan

Mesin Dynometer, atau lebih dikenal dengan dynotest, masih menjadi patokan untuk mengetahui performa mesin secara real. Hasil dari dynotest biasanya berupa grafik atau tabel yang menggambarkan berapa besar tenaga dan torsi yang dihasilkan mesin pada putaran mesin tertentu. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa sesi dynotest masih dirasakan cukup mahal bagi sebagian besar pemilik kendaraan bermotor.


Sebelum beranjak ke penjelasan mengenai rekayasa grafik dynotest, sebelumnya saya akan menjelaskan mengenai Torsi dan Tenaga, 2 komponen penting yang terukur dalam sesi dynotest.

Torsi adalah gaya tekan putar pada bagian yang berotasi, rumusnya :

Torsi = Gaya * Jarak   (kg * m)

Jika direpresentasikan dalam mesin, Gaya adalah daya dorong dari ledakan di ruang bakar, sementara Jarak adalah jarak pin stang piston ke as kruk-as atau 1/2 stroke.
jadi untuk memperbesar torsi bisa dengan cara memperbesar daya dorong piston (memperbesar pengapian, kompresi, dll) atau memanjangkan stroke, bisa pilih salah satu atau dua-duanya.

Tenaga adalah kinerja rata-rata diukur dalam batasan waktu tertentu. Rumusnya :

Tenaga = Kerja / Waktu (Kg.m / s)

Bedanya dengan torsi, torsi hanya menghitung besar kerja yang dihasilkan, sementara tenaga adalah besaran kerja pada batasan waktu tertentu. contoh 1ps = 75kg.m/s, artinya 1ps bisa membawa beban 75kg sejauh 1meter dalam 1detik. Untuk membesarkan tenaga, butuh torsi yang besar, karena torsi berbanding lurus dengan tenaga.
Tenaga pada crankshaft mesin diukur dalam rumus :

Q = 0,0014 NT

Q = Tenaga
N = Putaran mesin
T = Torsi
Torsi memang berbanding lurus dengan tenaga, terutama di putaran bawah mesin, tapi seiring naiknya putaran mesin tenaga mesin juga naik sementara torsi bisa stagna atau turun.

Berdasarkan dari rumus diatas, kita dapat merekayasa bentuk sederhana dari grafik dynotest, contohnya saya ambil dari spesifikasi Suzuki GN125 yang memiliki mesin serupa dengan Thunder 125 :

Power: 11.00 HP (8.0 kW) @ 9600 rpm
Torque: 8.30 Nm (0.8 kgf.m or 6.1 ft.lbs) @ 8600 rpm

Torsi pada power maksimum = 11 / (0.0014 * 9600) = 0,818 kgf.m
Power pada torsi maksimum = 0.0014 * 8600 * 0,8 = 9,63 HP
Maka grafiknya akan terlihat seperti berikut :

Simulasi kurva dynotest Thunder125

Jika dibandingkan dengan mesin berkapasitas sama yaitu Honda CS1 yang memiliki data sebgai berikut :

Daya maksimum : 12,8 PS / 10.000 rpm
Torsi maksimum : 1.04 kgf.m / 7500 rpm

Jika dihitung
Torsi pada daya maksimum = 12,8 / (0.0014 * 10.000) = 0,91 kgf.m
Daya pada torsi maksimum = 0.0014 * 7500 * 1.04 = 10,92 PS
Maka grafiknya akan terlihat seperti berikut :

Simulasi kurva dynotest CS1

Jika dibandingkan antara keduanya, dengan mengesampingkan besar output tenaga, terlihat bahwa Honda CS1 memiliki range power yang lebih lebar daripada Thunder 125, dimana jarak antara pencapaian torsi maksimum dan daya maksimum grafiknya sedikit landai, sementara Thunder memiliki grafik yang curam yang artinya lonjakan tenaganya baru terasa saat rpm tinggi.

* inspired by : http://ratmotorsport.wordpress.com/2010/07/14/torsi-dan-tenaga/

Iklan
Pos ini dipublikasikan di HOWTO dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s