HOWTO : Hitung Konsumsi Bahan Bakar (Uji Statis)

Menyambung dari artikel sebelumnya mengenai Benarkah Mesin Bore-up Bisa Lebih Irit Dari Mesin Standar, untuk mendukung perhitungan konsumsi bahan bakar yang akurat maka saya melakukan sedikit eksperimen pada sepeda motor yang saya punya yaitu Yamaha Scorpio Z tahun 2006, dengan spesifikasi mesin standar, karburator standar, knalpot bobok halus, dan bahan bakar premium. Pada eksperimen ini, alat bantu yang saya pakai diantaranya adalah suntikan, wadah kecil, stopwatch, alat tulis dan kalkulator.

Langkah pengujiannya adalah sebagai berikut :
Continue reading

SHARE : Benarkah Mesin Bore-up Bisa Lebih Irit Dari Mesin Standar ?

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca suatu artikel dalam sebuah tabloid yang membahas mengenai perbandingan konsumsi bahan bakar antara mesin yang masih standar dengan mesin yang sudah di-upgrade dengan cara meningkatkan kapasitas mesin yaitu bore-up. Herannya, motor yang sudah di-upgrade justru bisa lebih irit dari mesin standar, lho koq bisa? Pada artikel tersebut dijelaskan bahwa mesin yang sudah di-upgrade memiliki tenaga yang lebih besar, jadi tidak perlu pelintir gas lebih dalam untuk menghasilkan tenaga yang sama dengan mesin standar, artinya meng”hemat” putaran mesin (rpm).

Dengan berbekal rasa penasaran akhirnya saya coba iseng untuk membuktikan hasil tersebut menggunakan sudut pandang teori. Perlu dicatat bahwa angka-angka yang saya gunakan di perhitungan berikut sebagian adalah fiktif (karena saya tidak punya alat ujinya) tapi diusahakan rasionya mendekati kondisi sebenarnya. Berikut penjelasannya :

Continue reading

HOWTO : Ingin 20 DK, Apa Saja yang Harus Diubah?

Judul diatas hanya perumpamaan saja :)

Dalam mengupgrade kemampuan mesin tentu kita harus memiliki target yang ingin dicapai, entah itu dari sisi pencapaian daya kuda atau waktu tempuh lebih cepat dalam mencapai jarak tertentu. Untuk pencapaian waktu tempuh lebih cepat tentu harus didukung dengan mesin bertenaga besar juga, maka dari itu saya coba untuk mensimulasikan tata cara upgrade tenaga dihitung berdasarkan teori yang sudah ada. Langsung masuk ke contoh saja ya, agar gambarannya lebih jelas.

Contoh :
Suzuki Thunder 125 dengan kondisi standar mampu menelurkan tenaga 11,5 PS atau 11,3 DK. Target output tenaga setelah upgrade adalah 20 DK. Bore-up yang ingin dilakukan adalah bore-up menggunakan piston Honda Tiger berukuran 63,5 mm.
Bagaimana spesifikasi ubahan di bagian lainnya? Berikut beberapa simulasinya :

Continue reading

HOWTO : Hitung Rasio Kompresi Dinamis Mesin 4-Tak

Dalam proyek Engine Calculator yang sedang saya buat, salah satu variabel yang ingin saya hitung adalah nilai rasio kompresi dinamis. Jika selama ini kita berkutat dengan rasio kompresi statis yang selalu dicantumkan dalam brosur, pada dasarnya salah satu penentu performa mesin yang sebenarnya bukanlah nilai kompresi statis, namun kompresi dinamis. Kenapa? Karena pada kenyataannya momen kompresi bukan dimulai saat piston dalam posisi Titik Mati Bawah (TMB / BDC), tapi dimulai saat posisi klep in sudah tertutup sempurna. Klep menutup sempurna setelah piston melewati TMB (prinsip 8-Stroke).

Dalam prakteknya, untuk menentukan tinggi stroke saat klep menutup diperlukan sejumlah alat ukur, diantaranya dial gauge, busur derajat kruk-as, dan sejumlah dudukan untuk penempatan alat tersebut, belum lagi mesin harus dibongkar, terutama bagian kepala silinder dan blok magnet.

setel timing kompresi

Namun ternyata ada cara yang jauh lebih mudah untuk menghitung tinggi langkah piston saat klep menutup tanpa harus membongkar mesin, caranya adalah dengan menggunakan prinsip-pinsip sudut segitiga, digambarkan sebagai berikut :

Continue reading